Followers


Menilai seseorang berdasarkan Janji

Posted by Hari Sobri on Saturday, November 17, 2012


Abis dengerin ceramah dari seorang ustadz, gue jadi inget waktu pertama kali gue belajar ceramah di depan puluhan orang, yaitu ketika gue SMP. Waktu itu gue inget membawakan sebuah ceramah bertemakan “Salah satu perilaku Rasulullah SAW yang wajib di teladani” atau lebih spesifik yaitu tentang janji.
             Entah kenapa saat ini gue kepikiran tentang pentingnya arti sebuah janji, mungkin karena gue juga terkadang tidak menepati janji (bukan untuk ditiru), tapi hal itulah yang sebenarnya terganjal di hati, merasa bersalah, dll. Walaupun sebenarnya dengan alasan yang jelas secara logika. Jadi gue coba untuk menuliskan kembali apa yang pernah gue sampaikan waktu itu, dan semoga bermanfaat. 

            Sebelumnya kita harus tahu, apa itu janji? Janji merupakan sebuah perkataan dari suatu pihak ke pihak lainnya, yang mana perkataan tersebut merupakan sebuah pemberian atau sebuah layanan yang berharga bagi salah satu ataupun kedua belah pihak di waktu kemudian.  

Banyak orang yang mengartikan janji adalah ikatan seseorang terhadap lainnya yang di dalamnya terdapat kata “JANJI”. Misalnya :
“Oke kalau begitu JANJI ya, besok datang jam 8 malam !”.

Tapi sebenarnya tidak hanya itu, tanpa ada kata “JANJI” tersebut pun perjanjian sudah dilakukan. Misalnya :
“Oke, kalau begitu kita ketemuan besok. Jam 8 malem gue jemput di rumah ya ?”

Janji bisa berupa perkataan lisan maupun tulisan sebagai kontrak perjanjian. Dengan bentuk tertulis (kontrak), biasanya sebuah perjanjian akan lebih kuat dari segi hukum. Akan tetapi hanya dengan lisan pun, janji tetaplah janji, yaitu sesuatu yang harus di tepati.

Ada sebuah ungkapan : “Al wa’du dainun”, yang artinya janji adalah hutang.
Dari ungkapan tersebut bisa diambil kesimpulan betapa pentingnya arti sebuah janji sehingga disetarakan dengan sebuah hutang. Karena hutang merupakan suatu hal yang harus dibayar, bahkan sampai ketika seorang muslim wafat, ahli waris lah yang wajib membayarnya.  Maka begitulah dengan janji.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 1:
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (Perjanjian) itu

Di ayat lain Allah berfirman :
                
Artinya : … dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

Di ayat ini di jelaskan bahwa setiap janji akan dimintai pertanggung jawaban (di hari akhir/kiamat), oleh karena itu tepatilah janji.
Janji juga bisa berupa sumpah ataupun jaminan. Dengan adanya sumpah seseorang akan lebih mempercayai si pembuat janji. Misalnya dengan kalimat, demi Allah, ataupun dengan 3 kalimat sumpah yaitu Wallahi, Billahi, Tallahi. Akan tetapi menjadikan sumpah sebagai kebiasaan pun tidak boleh, karena perbuatan itu menunjukan penghinaan atau ketidak hormatan. Allah berfirman dalam surat Al-Qalam ayat 10 :
Artinya : Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.
Dan dalam sebuah hadits yang shohih bahwa di antara 3 orang yang Allah tidak mengajak bicara pada hari kiamat, tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih yaitu : lelaki yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, dia tidak membeli kecuali dengan sumpahnya (bersumpah dengan nama Allah) dan tidak menjual kecuali dengan sumpahnya.
Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 89 :
 
Artinya : Dan jagalah sumpah-sumpah mu.
Dari firman Allah SWT tersebut bisa disimpulkan bahwa diperbolehkan bersumpah, tapi jagalah sumpah tersebut. Maksudnya jangan bersumpah kecuali ketika dibutuhkan serta dalam kebaikan dan juga kejujuran.
Allah berfirman dalam ayat lainnya : 
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? . Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ( QS. As-Shaf: 2-3).
Janji juga bisa dijadikan salah satu faktor untuk menilai seseorang.  Berdasar bagaimana ia menepati atau malah mengingkarinya, meremehkannya, meninggalkannya tanpa suatu alasan yang rasional/jelas. Karena banyak hadits yang menjelaskan bahwa orang yang tidak menepati janji adalah salah satu ciri orang-orang munafik.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tandanya orang munafik itu ada tiga,yaitu:  jikalau ia berbicara berdusta, jikalau ia berjanji menyalahi (mengingkari) dan jikalau ia dipercaya berkhianat." (Muttafaq 'alaih)
la menambahkannya dalam riwayat Imam Muslim: "Sekalipun orang itu berpuasa dan   bersembahyang dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang Muslim."

Hadits lainnya tentang itu : Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhi allahu 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Ada empat perkara, barangsiapa yang empat perkara itu semuanya ada di dalam dirinya, maka orang itu adalah seorang munafik yang murni - yakni munafik yang sebenar-benarnya - dan barangsiapa yang di dalam dirinya ada satu  perkara dari empat perkara tersebut, maka orang itu memiliki pula satu  macam perkara dari kemunafikan sehingga ia meninggalkannya, yaitu: jikalau dipercaya berkhianat, jikalau berbicara berdusta, jikalau berjanji bercidera - yakni tidak menepati - dan  jikalau bertengkar maka ia berbuat kecurangan - yakni tidak melalui jalan yang benar lagi." (Muttafaq 'alaih)

Lalu apa kemunafikan itu? Kemunafikan ialah menunjukkan di luar sebagai seorang Muslim yang benar-benar keislaman dan keimanannya, tetapi dalam hatinya adalah sebaliknya. Orang munafik itu hakikatnya ad alah orang yang memusuhi Agama Islam, menghalang-halangi perkembangan dan kemajuan Islam, tidak ridha dengan kepesatan dan keluhuran Islam dan dengan segala daya-upaya hendak mematikan Agama Islam.

Itulah yang terkandung dalam hatinya yang sebenar-benarnya. Hanya tampaknya saja ia sebagai pemeluk Islam yang setia. Bagi Islam orang munafik itu adalah sebagai musuh dalam selimut. la menggunting dalam lipatan atau menohok  kawan seiring dari belakang. Besar benar bahayanya kaum munafik itu terhadap Islam  dan kaum Muslimin. Oleh sebab itu Allah menjanjikan siksa yang pedih kepada kaum munafik itu dengan firmannya: 

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu ada  di dalam tingkat terbawah dari neraka."
Oleh sebab tidak seorangpun yang mengetahui isi hati seseorang, maka oleh Rasulullah s.a.w. diuraikan tanda-tandanya  kemunafikan, yaitu ada empat macam perkara.

Dijelaskan oleh beliau s.a.w. bahwa barangsiapa yang memiliki empat macam perkara itu keseluruhannya, maka ia benar-benar dapat digolongkan dalam kelompok kaum munafik yang tulen atau murni, bagaikan emas kemunafikannya sudah  24 karat. Tetapi apabila hanya satu perkara saja yang dimilikinya itu, maka  ia telah dihinggapi satu macam penyakit kemunafikan tersebut.
Adapun empat perkara itu ialah:
1.  Jikalau berbicara berdusta.
2.  Jikalau berjanji tidak menepati.
3.  Jikalau bertengkar atau bertentangan dengan seseorang, lalu berbuat kejahatan.
4.  Jikalau membuat sesuatu perjanjian lalu merusakkan atau membatalkannya sendiri
 yakni tidak mematuhi isi perjanjian itu dengan sebaik-baiknya.

Dalam Hadis sebelumnya disebutkan bahwa  salah satu sifat kemunafikan ialah:
Jikalau dipercaya lalu berkhianat. Penyakit  kemunafikan itu tetap berjangkit dalam diri seseorang selama sifat-sifat buruk di atas (l ima macam) tidak ditinggalkan, sekalipun orang tersebut mengerjakan shalat, puasa serta mengaku bahwa dirinya adalah manusia Muslim.

Jadi kemunafikan seseorang itu dianggap tinggi  atau rendah, murni atau tidak, hal itu tergantung kepada banyaknya sifat kemunafikan yang dimiliki olehnya. Jelasnya kemunafikannya itu dapat 20%, 40%, 60%, 80% atau 100% yakni tulen dan murni.
Semoga kita semua dihindarkan dari  sifat kemunafikan ini selama-lamanya.

Islam mengajarkan agar setiap muslim menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak mulia. Dan di antara akhlak mulia itu adalah menepati janji. Memelihara dan menepati janji adalah salah satu dari sifat-sifat dan perilaku nabi dan rasul, sebagaimana Allah berfirman tentang nabi Ismail, AS. :
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (QS. Maryam - 54)      .
           
Diambil dari berbagai sumber, salah satunya -> Kitab Riyadhus Shalihin - Imam Nawawi.

Facebri-Facenya si Sobri

5013121

Klik tombol like diatas... Jika anda menyukai artikel ini.
Terima Kasih telah mengunjungi Blog ini,
Jangan lupa untuk memberikan komentar, kritik maupun saran pada form dibawah post ini...

Share / Bagikan Artikel ini ke teman Anda :

{ 0 comments...Tambahkan Komentar Anda }

Post a Comment

Silahkan berikan, komentar, kritik ataupun saran yang membangun :)
Terima Kasih